Keterampilan AI kini menjadi kompetensi vital dalam keamanan siber. Laporan Fortinet 2025 menyoroti tingginya adopsi AI namun minimnya talenta ahli yang memperbesar risiko serangan digital.
Marketing.co.id – Berita Digital | Fortinet®, perusahaan global di bidang keamanan siber, merilis 2025 Global Cybersecurity Skills Gap Report yang mengungkap bahwa kemampuan khusus di bidang kecerdasan buatan (AI) kini menjadi elemen krusial dalam menghadapi meningkatnya serangan siber dan menutup kesenjangan keterampilan di industri keamanan digital.
Laporan tersebut mencatat, 96% profesional keamanan siber mengharapkan AI mampu meningkatkan peran mereka, terutama dalam hal efisiensi dan percepatan deteksi ancaman. Namun, seiring meningkatnya pemanfaatan AI, muncul pula risiko baru karena masih terbatasnya tenaga ahli yang benar-benar memahami teknologi ini secara mendalam.
Baca Juga: Tren AI Yang Diprediksi Populer di 2030
“Tanpa menutup kesenjangan keterampilan, organisasi akan terus menghadapi peningkatan insiden pelanggaran dan kenaikan biaya,” ujar Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia. Menurutnya, diperlukan investasi serius dalam pengembangan talenta keamanan siber agar organisasi tidak semakin rentan terhadap ancaman digital.
Pelanggaran Siber Terus Meningkat
Menurut laporan tersebut, 100% organisasi global yang disurvei mengalami sedikitnya satu insiden pelanggaran siber pada 2024. Bahkan, hampir separuh di antaranya mengalami lima kali atau lebih. Angka ini meningkat tajam dibandingkan dengan 2021, di mana 80% organisasi melaporkan pelanggaran, dan hanya 19% mengalami lima insiden atau lebih.
Lebih lanjut, 68% responden menyebut kekurangan keterampilan keamanan TI sebagai salah satu penyebab utama terjadinya pelanggaran. Dampak finansialnya pun besar, dengan 62% organisasi mengalami kerugian lebih dari USD 1 juta akibat insiden siber sepanjang 2024.
Di sisi lain, kebutuhan akan tenaga profesional keamanan siber terus meningkat. Saat ini, kekurangan talenta global diperkirakan mencapai lebih dari 4,7 juta orang, yang membuat banyak posisi penting di bidang ini tetap kosong.
Adopsi AI Tinggi, Tapi Keahlian Masih Minim
Seluruh organisasi yang disurvei mengaku telah atau berencana menggunakan teknologi berbasis AI untuk memperkuat sistem keamanan digital mereka, khususnya dalam deteksi dan pencegahan ancaman.
Meski demikian, sekitar 40% pengambil keputusan TI menyebut kurangnya staf dan keahlian AI sebagai hambatan utama dalam penerapan teknologi tersebut. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tingginya adopsi teknologi dengan kesiapan sumber daya manusia.
Fokus Direksi Meningkat, Pemahaman Masih Terbatas
Perhatian dewan direksi terhadap keamanan siber kini semakin meningkat. Sebanyak 94% dewan disebut telah menaikkan fokus mereka pada isu ini, sementara hampir seluruh organisasi melihat keamanan siber sebagai prioritas bisnis (98%) dan finansial (100%).
Namun, pemahaman mengenai dampak AI terhadap risiko siber masih terbatas. Sekitar 70% responden menilai direksi mereka sudah memahami risiko AI, meskipun pemahaman tersebut belum sepenuhnya menyentuh ancaman AI yang digunakan oleh pelaku kejahatan siber.
Sertifikasi Masih Jadi Tolok Ukur
Dalam perekrutan tenaga keamanan siber, sertifikasi masih menjadi faktor penting. Sebanyak 90% pengambil keputusan TI lebih memilih kandidat bersertifikasi, karena dianggap memvalidasi pengetahuan dan kesiapan menghadapi perkembangan teknologi.
Ironisnya, dukungan pembiayaan sertifikasi dari perusahaan justru menurun, dari 88% pada 2023 menjadi 76% pada 2025.
Komitmen Fortinet dalam Pengembangan Talenta
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Fortinet Training Institute memperluas akses terhadap pelatihan dan sertifikasi, termasuk modul khusus mengenai AI dan ancaman siber berbasis GenAI. Program ini ditujukan bagi organisasi dan individu untuk meningkatkan kesadaran serta kompetensi di bidang keamanan digital.
Fortinet juga menegaskan komitmennya untuk melatih 1 juta orang di bidang keamanan siber secara global hingga akhir 2026, sebuah target yang diumumkan sejak 2021 dan masih terus dilaksanakan.