APAC Didorong Prioritaskan Keamanan Agentic AI Menjelang 2026

APAC harus memprioritaskan keamanan Agentic AI menjelang 2026 dengan strategi berbasis identitas, zero-trust, dan PAM modern.

Marketing.co.id – Berita Digital | Seiring pesatnya transformasi digital di kawasan Asia-Pasifik (APAC), para pakar keamanan siber mengingatkan organisasi untuk bersiap menghadapi kemunculan agentic AI, yaitu sistem otonom yang mampu menjalankan fungsi bisnis kompleks tanpa campur tangan manusia.

SVP APAC sekaligus Japan Country Manager di Keeper Security Takanori Nishiyama menekankan bahwa meskipun agentic AI menjanjikan peningkatan produktivitas, teknologi ini juga membawa tantangan keamanan baru. ‘Setiap agen membutuhkan akses, setiap akses membutuhkan kredensial, dan setiap kredensial merupakan potensi titik kegagalan,’ jelasnya.

Baca Juga: Agentic AI dan Krisis Keamanan Siber di Asia Pasifik

Sistem keamanan tradisional yang dirancang untuk mengelola perilaku manusia kerap kesulitan menghadapi agen otonom yang membutuhkan izin tingkat tinggi dan bersifat persisten. Agen AI yang salah dikonfigurasi atau disusupi dapat disalahgunakan dengan kecepatan mesin, memicu penyebaran kredensial, eskalasi hak istimewa, serta pergerakan lateral di seluruh jaringan—ancaman yang tidak lagi mampu ditangani oleh pertahanan perimeter konvensional.

Oleh karena itu, para ahli merekomendasikan penerapan kerangka kerja Privileged Access Management (PAM) berbasis cloud yang mengadopsi prinsip zero-trust dan zero-knowledge. Nishiyama menjelaskan bahwa PAM modern harus mencakup secrets management, manajemen hak istimewa endpoint, serta manajemen koneksi.

Baca Juga: HERA Dorong Inovasi Layanan Berbasis Agentic AI

Dengan integrasi analitik berbasis AI, platform PAM dapat berkembang dari sekadar gudang kredensial menjadi lapisan pertahanan adaptif dan real-time. Sistem ini dapat mendeteksi perilaku anomali—meskipun kredensial valid—memberikan peringatan kepada tim keamanan, dan mencabut akses secara otomatis, sehingga waktu deteksi dan respons terhadap pelanggaran dapat berkurang secara signifikan.

Baca Juga: 10 Tren AI yang Menentukan Daya Saing Perusahaan di 2026

Dengan integrasi analitik berbasis AI, platform PAM dapat berkembang dari sekadar gudang kredensial menjadi lapisan pertahanan adaptif dan real-time. Sistem ini mampu mendeteksi perilaku anomali—bahkan ketika kredensial yang digunakan valid—memberikan peringatan kepada tim keamanan, serta mencabut akses secara otomatis. Sehingga, waktu deteksi dan respons terhadap pelanggaran dapat berkurang secara signifikan.

Adopsi agentic AI di kawasan APAC diperkirakan akan meningkat dengan kecepatan yang bervariasi, namun implikasi keamanannya bersifat universal. “Tanpa strategi manajemen identitas dan akses yang terpadu serta berlandaskan prinsip zero-trust, organisasi akan tetap rentan terhadap risiko siber generasi berikutnya,” pungkas Nishiyama mengingatkan.

Baca Juga: Agentic Marketing, Solusi AI untuk Efisiensi, Personalisasi, dan ROI

Menjelang 2026, bisnis di APAC didorong untuk membangun kerangka kerja proaktif yang berfokus pada identitas guna memastikan ketahanan di era sistem otonom.

Related posts

Agentic AI, Ancaman atau Masa Depan Bisnis?

Di Balik Optimisme Ekonomi, Ini Tiga Isu yang Paling Dikhawatirkan Warganet

95% Pemimpin Data Akui Tak Paham Cara AI Ambil Keputusan